Potensi Tinta Gurita (Octopus sp.) sebagai Produk Inovasi Perisa Seafood
Potret
Indonesia jika dilihat dari sudut pandang peta, mungkin hanya terlihat sebatas deretan
pulau yang dikelilingi oleh hamparan samudra. Namun, dari sinilah awal potensi peningkatan
perekonomian Indonesia berkembang pesat. Dua pertiga dari luas teritorial
wilayah Indonesia adalah laut yang dibedakan menjadi tiga macam zona teritorial
yakni: Zona Laut Teritorial dari garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari
garis dasar ke arah laut lepas, Zona Landas Kontinen dari dasar laut yang
secara geologis maupun morfologi merupakan lanjutan dari sebuah kontinen, Zona
Ekonomi Ekslusif (ZEE) dari jalur laut selebar 200 mil laut ke arah laut
terbuka diukur dari garis pantai.Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa
keanekaragaman hasil laut yang berlimpah.Sebagai contohnya Rumput laut (Eucheuma cottonii) yang banyak dimanfaatkan
masyarakat untuk bahan baku produk pangan atau kosmetik. Hasil produksinya telah
mampu menjadikan negara Indonesia turut bersaing dengan negara-negara maju sebagai
salah satu negara pengekspor bahan pangan komoditi laut terbesar di dunia(Kompas.com).
Di samping prestasi gemilang itu,
Indonesia juga masih dihantui oleh masalah perekonomian lokal maupun
internasional. Sungguh ironi memang apabila kekayaan sumber biota laut
khususnya hanya mampu membantu perekonomiaan Indonesia dari segi bahan
mentahnya saja, tanpa disertai inovasi lain yang dapat membantu perekonomian
bangsa.Karenanya, diperlukan ide-ide kreatif untuk saling berkontribusi dalam
pengolahan bahan pangan asli Indonesia
menjadi produk yang bernilai tinggi di pasar global. Fenomena tersebut dapat
dinetralisir dengan mengetahui potensi yang terkandung di dalamnya agar dapat
dikembangkan sebagai bukti pemanfaatan hasil pangan yang berlimpah di laut
nusantara.
Salah
satu pangan laut Indonesia yang memiliki potensi untuk memperkuat ekonomi
bangsa namun belum dimanfaatkan adalah gurita.(Octopus sp.) Gurita adalah salah satu marga paling terkenal dari
kelas Cephalopoda. Habitat gurita adalah pantai yang terdapat banyak terumbu
karang.Gurita bereproduksi dengan cara bertelur (ovipar) dan bisa menghasilkan
telur hingga mencapai 200.000 butir sekali produksi. Rentang hidupnya sangatlah
singkat. antara 5-6 bulan saja. Mollusca
ini mempunyai ciri khas unik dengan kedelapan lengan yang dapat menarik mangsa menuju sarangnya serta
memiliki kemampuan melarikan diri dari
musuh dengan mengeluarkan zat pekat yang disebut tinta. Tinta yang dihasilkan
gurita terkadang kurang dimanfaatkan atau bahkan dibuang.
Sejauh
ini, Indonesia telah mengekspor 30 ton gurita dengan target akan mengekspor gurita
beku sebanyak 1.000 ton ke Jepang dalam waktu lima tahun ke depan. Menurut data
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di tahun 2016 Indonesia masuk dalam
jajaran top- ten sebagai eksportir
gurita dunia, Peneliti di Pusat Kajian Pembangunan
Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana menyebutkan bahwa Periode 2001-2016
pertumbuhan perekonomian hasil gurita cukup tinggi di atas 7 persen
(Kumparan.com). Potensi gurita tersebut, akan lebih bermanfaat bagi
rakyat apabila dapat dijadikan peluang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebagai
bahan baku produk perisa seafood andalan
oleh masyarakat sekitar pantai.
Pengelolaan
gurita sebagai bahan pangan asli Indonesia sudah lama dilakukan di daerah-daerah
pesisir Nusantara. Daerah yang kaya akan hasil pangan gurita mengolah gurita
untuk dijadikan buah tangan. Di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu misalnya, gurita
dijadikan sebagai bahan olahan lezat seperti sate gurita, kripik gurita, dan jenis
makanan lain. Kuliner ini adalah salah satu kuliner khas yang banyak
digandrungi penduduk lokal hingga penduduk luar daerah Kabupaten Kaur.
Tidak
hanya sebatas modifikasi daging gurita saja, pengembangan potensi tinta gurita juga
belum banyak dilirik oleh berbagai kalangan akan tetapi sebenarnya tinta gurita
memilki banyak khasiat. Di antaranya mampu meningkatkan hormon pertumbuhan (growth hormone), meningkatan fungsi
antioksidan dan menambah imunitas (Huazhong et.al.
2011). Tinta gurita juga memiliki efek antibakteri terhadap strain bakteri penghasil ESBL (extended-spectrum
β-lactamases) yaitu Escherichia coli
dan K. Pneumonia yang berperan
sebagai bakteri baik dalam usus besar manusia (Girija et.al. 2011). Ekstrak yang telah dimurnikan dari tinta Chepalopoda
juga mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (Mochizuki 1979) dan juga terhadap
bakteri-bakteri gram negatif (Nirmale et.al.
2002). Sementara itu ekstrak dari tinta gurita menunjukan aktivitas
antiretroviral terhadap Molony Murine Leukimia Virus Reverse Transcriptase
(MMLVRT) (Rajaganapathy et. al.
2000).
Masyarakat
Indonesia biasanya mengolah tinta gurita hanya untuk menambah cita rasa
masakkan saja. Namun sebenarnya, akan lebih praktis apabila tinta gurita dibuat
sebagai bumbu masakkan kemudian, bumbu dikemas menjadi sebuah produk perisa
makanan yang bernilai ekonomis. Proses pengelolaan yang sederhana dengan bahan
yang mudah didapat; seperti garam, gula pasir, gula aren, bawang putih, bawang
merah, lada, dan kencur. Produk dapat diproduksi dengan langkah-langkah yang sederhana,
yakni hanya dengan melakukan pencampuran semua bahan dan dimasak dalam waktu tujuh
menit. Produk ini dapat bertahan selama satu minggu meskipun tanpa campuran
bahan pengawet.
Tren
dan variasi kuliner masyarakat Indonesia yang dalam satu dekade ini meningkat,
menciptakan peluang bisnis menjanjikan untuk produk perisa seafood dari tinta gurita. Kandungan protein yang tinggi, harga
yang terjangkau, serta mantapnya rasa tinta gurita sangat cocok digunakan untuk
penyedap makanan alami. Produk tersebut diharapkan menjadi produk perisa
alternatif yang lebih menyehatkan dibanding dengan produk sejenis di pasaran.
Melihat
besarnya peluang pengembangan komoditi laut Indonesia, khususnya produk olahan
tinta gurita, maka bukan tidak mungkin ke depannya perekonomian bangsa akan
terus melejit sesuai dengan target yang ingin dicapai oleh bangsa dan negara.
Namun, butuh perhatian khusus dari pemerintah yang bekerja sama dengan segenap
elemen masyarakat demi terciptanya sentra-sentra pengolahan produk perisa
gurita di tanah air. Secara khusus, pemerintah daerah dapat membantu
menyediakan kemudahan proses perizinan, pemasaran, dan modal kepada masyarakat
di sekitar pantai habitat gurita. Elemen pemuda dapat membantu pelatihan dan
pendampingan masyarakat dari mulai proses berburu gurita hingga pengepakan guna
menghasilkan produk olahan yang berkualitas unggul. Sementara elemen pengusaha
dapat menyukseskan proyek ini melalui penambahan modal serta pembangunan sentra
atau koperasi bersama untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan di masyarakat.
Kolaborasi
bersama dari semua pihak tentunya diharapkan demi menciptakan masyarakat yang
mandiri, kreatif, dan senantiasa berkarya. Karena roda kemajuan perekonomian
tidak akan dapat digerakkan apabila tidak ada inisiatif dan kerja sama dari
masing-masing elemen masyarakat. Begitupun proyek perisa seafood tinta gurita ini akan mampu mengubah kondisi perekonomian
warga apabila benar-benar dikelola dengan profesional.
Jayalah
terus pangan nasional Indonesia untuk kemajuan perekonomian bangsa!.
Sumber Tulisan:
Kumparan.com.2016.
“Ekspor Gurita Indonesia “ .Link.Diterbitkan Senin 26-06-2016.
https://marinesceunpad.wordpress.com/tag/pemanfaatan-tinta-gurita/

Cara penyampaiannya yang singkat dan jelas sehingga sangat mudah untuk dipahamii :)
BalasHapusTerimakasih kakak
BalasHapus